Film My Generation Bikin Orang Tua Deg-Deg-an

pemain film baru; upi rock; ifi sinema; film indonesia; film indonesia; anak generasi millenial; generasi millenial; kesalahan dalam mendidik generasi millenial; review film my generation; film my generation


Melihat segerombolan muda mudi cekakak cekikik sambil menggenggam rokok ditangannya, sementara yang lain nongkrong di atas motor, dan beberapa wanita terlihat diantara mereka, sukses membuat aku nggak konsen makan. Malam itu aku dan papandut memutuskan untuk makan di luar. Dan saat itulah kami melihat pemandangan yang membuat aku nggak bisa melepaskan pandangan dari mereka.


Jangan bilang aku nggak pernah muda. Nggak mungkin lah aku tiba-tiba lahir dan jadi orang tua seperti sekarang. Akupun pernah merasakan masa-masa remaja seperti mereka. Dan akupun pernah berada di tengah-tengah pergaulan seperti itu. Tapi entah kenapa, meskipun dulu pernah juga berada di posisi mereka, melihat mereka saat ini membuat aku semakin was-was akan pergaulan di masa krucils remaja nanti. Dan nggak jarang hal ini jadi bahan diskusi aku dan papandut.

"Kalau nanti anak-anak minta ijin nongkrong malem-malem gimana?"
"Adek nanti pas SMA dikasih motor nggak?"
"Anak-anak boleh pacaran umur berapa?"

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang jadi bahan diskusi aku dan papandut setiap kami dipertemukan dengan anak remaja jaman now dengan berbagai gaya hidupnya, yang terus terang selalu membuat aku terus menatap mereka dari kejauhan mengamati tindak tanduk mereka.

Ngeri! Was-was! mungkin itu yang lebih tepat menggambarkan suasana hati aku. Kebayang dong ya, sekarang aja pergaulannya sudah seperti itu. Gimana nanti di jamannya krucils remaja? Oh No!!!

Dan mau nggak mau kita harus bisa menerima pergeseran perilaku remaja jaman sekarang (generasi millenials) dibandingkan jaman kita remaja. Nggak bisa lagi mereka disamakan dengan kita. Lalu, apakah kita sudah siap menjadi orang tua dari anak-anak generasi millenials yang tumbuh dengan berbagai problematika remaja millenials?

Inilah yang membuat IFI Sinema meluncurkan "My Generation". Film terbaru bergenre drama remaja yang mengangkat problematika remaja millenial. Adalah Upi, seorang sutrada film yang berhasil digandeng oleh IFI Sinema. Sebelum My Generation, Mbak Upi telah mendebutkan karya film Indonesia terbaik seperti My Stupid Boss, 30 Hari Mencari Cinta, Radit Jani, Realita Cinta Rock and Roll.

My Generation Film Membuat Para Orang Tua Deg-Deg an


Empat pemain baru yang sesuai dengan karakter remaja millenials, digadang sebagai pemeran utama dalam film ini. Mereka adalah :
  1. Bryan Langelo sebagai Zeke
  2. Arya Vasco sebagai Konji
  3. Alexandra Kosasie sebagai Orly
  4. Luthesa sebagai Suki





Selain para bintang muda yang dijadikan pemeran utama dalam film My Generation, film ini juga dimeriahkan oleh pemain-pemain senior seperti : Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi dan Aida Nurmala.



Film My Generation bercerita tentang 4 anak SMA, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Diawali dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang memprotes guru, sekolah dan orang tua menjadi viral di sekolah mereka. Hingga mereka dihukum tidak boleh pergi liburan.

Liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, akhirnya justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan mereka.

Orly sebagai perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip dan ia sedang dalam masa pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal-hal lain yang melabeli kaum perempuan. Salah satunya tentang keperawanan. Oryl berusaha mendobrak dan menghancurkan label-label negatif yang sering diberikan kepada perempuan.

Suki sebagai perempuan paling cool diantara teman-temannya. Selayaknya anak muda pada umurnya, Suki memiliki krisis kepercayaan diri yang berusaha ia sembunyikan. Tetapi krisis kepercayaan dirinya semakin besar seiring dengan sikap orang tuanya yang selalu berpikiran negatif padanya.

Zeke, pemuda rebellious tapi juga easy going dan sangat loyal pada sahabat-sahabatnya, ternyata memendam masalah yang snagat besar dan menyimpan luka yang dalam di hatinya. Zeke merasa kedua orang tuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya.

Konji sebagai pemuda polos dan naif, tengah mengalami dilema dengan masa pubertasnya, ia merasa di tekan oleh aturan orang tuanya yang sangat kolot dan over protective. Hingga ada satu peristiwa yang membuatnya kehilangan kepercayaan pada orang tuanya.

Kisah ke-4 sahabat ini menggambarkan generasi millenials saat ini yang memiliki karakter unik dengan permasalahan-permasalahan yang cukup kompleks. Dan dari film ini, kita akan disajikan realita lebih dekat tentang kehidupan generasi millenials sehingga kita dapat mengetahui karakter mereka yang sesungguhnya.

***

Melihat trillernya, membuat aku deg-deg-an dalam menghadapi masa remaja krucils nanti. Karena nggak bisa dipungkiri bergesernya gaya hidup modern akibat era digital melahirkan generasi millenials dengan karakter-karakter unik, yang tentu perlu treatment yang berbeda dengan masa kita remaja. Setidaknya, dari film ini, aku bisa mengetahui apa isi hati mereka dan apa yang sebenarnya mereka harapkan dari kami para orang tuanya. Dan satu catatan penting, mereka sangat kritis. Jadi bersiaplah para orang tua, mulai pelajari treatment apa yang pas untuk menghadapi mereka kelak.

Tentunya, nggak bisa juga mencaplok plek-plek an apa yang ada di film ini. Karena kita punya nilai-nilai agama yang kita anut masing-masing, yang akan menjadi "pagar" bagi anak-anak dalam menjalani masa remaja mereka.

Penasaran nggak niiihhh sama trillernya? Nih coba diintip dulu sebelum nanti tayang di bioskop pada tanggal 9 November 2017.


Gimana? Kaget? Shock? Sama dong.... 
Tapi itulah realita yang siap nggak siap, mau nggak mau akan kita hadapi nanti. Cerita ini bukan berarti melegalkan apa yang 4 remaja ini lakukan, tapi lihatlah dari sisi berbeda. Lihatlah dari pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan kepada kita semua. Bahwasanya generasi mereka bukanlah boneka atau pion catur yang bisa kita atur dan kita paksa kemana arah mereka melangkah. Bukan pula kita lepaskan begitu saja. Anggaplah mereka sebagai pasir pantai yang jika kita genggam terlalu erat, maka ia akan keluar dari sela-sela jari. Namun jika kita genggam dengan sedikit luwes, maka ia akan tetap berada dalam genggaman tangan.

Oya, untuk anak-anak remajanya yang ingin memonton film ini, agar didampingi ya. Supaya mereka nggak salah kaprah menganggap apa yang ke-4 remaja dalam film ini lakukan adalah hal lumrah yang boleh mereka lakukan.

***

Sayangnya, menurut aku, film ini hanya mengangkat kisah generasi millenials tingkat atas. Ini terbukti dengan gaya hidup mereka di dalam film. Akan lebih menarik lagi jika film ini menceritakan juga kisah generasi millenials tingkat menengah ke bawah. Karena problematika hidup para generasi millenials nggak hanya dihadapi oleh mereka di tingkat atas.

So, tandain kalendernya ya... Tanggal 9 November 2017.


14 comments

  1. Trailernya aja bikin kepo, apalagi filmnya, ga sabar nunggu tayang di bioskop

    ReplyDelete
  2. huff... inhale.. exhale... penasaran abis apa solusi yg ditawarkan dlm film ini :)

    ReplyDelete
  3. bikin ortu deg2an tapi menggambarkan realita yaaa.. justru jd pembelajaran penting bagi para ortu soal anak remaja

    ReplyDelete
  4. kabarnya mba Upi melakukan riset untuk film ini ya. Semoga bisa membuka mata dari konteks kehidupan anak remaja ya. Menunggu filmnya ditayangkan

    ReplyDelete
  5. Mba Upi kekinian banget ya bikin film. Berani pula ajak pemain baru. Nonton ahh buat emak-emak milenials

    ReplyDelete
  6. Tayangan wajib ortu jaman now biar gak kudet...bs pantau anak2nya lebih dalam juga

    ReplyDelete
  7. Salah satu film yang kutunggu tunggu kehdairannya, cepet dong tgl 9 hehe

    ReplyDelete
  8. beneran bikin deg-degan ya mba liat pergaulan kids jaman now begini, jadi penasaran full filmnya kaya gimana.. semoga banyak pelajaran baik yang bisa didapat dari film ini untuk para ortu dan anak-anak jaman sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg bikin deg2an adl gimana kita menyikapi mereka nantinya

      Delete
  9. pergaulan anak-anak jaman sekarang emang bikin dag dig dur ser ya

    ReplyDelete
  10. Tiap zaman pasti ada tantangannya, termasuk ortu kita dulu jg deg2an gmn menghadapi kita dulu, nah.. skrg kita nih yg jadi ortu, jd ngerti deh knp dulu ortu banyak larang ini itu... bedanya.. dulu tentang info parenting itu minim banget, skrg info parenting dimana2, jadi sebisa mungkin jadi teman yang mengasyikkan untuk anak tp anak harus tetap hormat pd ortu, duh.. deg2 ser jg sih liat masa remaja anak2 zaman now, semoga anak2 kita selalu dalam lindungan Allah, aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... iya ya mba, stlh jd ortu, kita jd bs memahami sikap ortu kita dulu ke kita.

      Delete
  11. apalagi aku yah yang punya dua abege di rumah, deg2an juga, hehehe..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca blog ini. Semoga nggak bosen untuk terus mampir kesini..
Silahkan tinggalkan comment. Dan mari saling Blogwalking :)
Oya, komen akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi nggak langsung muncul. Please jangan tinggalin jejak link hidup. Jika meninggalkan jejak link hidup, dengan sangat berat hati akan aku delete.

Terima Kasih