Ketika anak malas, paksa atau biarkan?

anak malas les, anak mogok les, menghadapi anak malas les, menghadapi anak mogok les, tips memilih les untuk anak, mengetahui minat anak, pentingnya les bagi anak

Dunia kantor kejam bro!!!!
Rasanya ini ungkapan yang pas untuk menggambarkan suasana kerja kantoran yang mungkin banyak terjadi hampir di semua kantor. Penuh intrik. Begitulah yang terjadi saat sebagian besar orang terlalu berambisi pada suatu jabatan atau posisi. Sementara aku yang hanya remahan rempeyek ini hanya bisa menikmatinya *SenyumKecut*.


Disitu kadang ada rasa sesal didalam dada karena nggak memiliki keahlian khusus yang bisa dijadikan daya jual. Yang membuat aku merasa, seandainya aku punya keahlian maka aku nggak akan terjebak di tengah-tengah pekerjaan kantoran yang waktunya sangat mengikat ini. Seandainya aku punya keahlian khusus, maka aku bisa menciptakan dunia kerja ku sendiri. Ya ya memang penyesalan datang di akhir. Kalau di depan namanya pendaftaran. Hahaha

Seingat aku dulu, aku sering sekali menggambar. Meniru segala gambar yang aku temukan di sekeliling aku. Tapi ya cuma sebatas itu. Nggak ada pengembangan apapun. Akhirnya hilang begitu saja. Dulu aku sering sekali menulis cerpen dan coba mengirimkan ke beberapa majalah remaja saat itu (walaupun nggak ada yang lolos). Dan sekarang, keinginan dan kemampuan menulis cerpen rasanya hilang seiring bertambahnya usia. Dulu rasanya aku sempat diikutkan beberapa les oleh Ibu. Namun malas-malasan sehingga nggak ada yang benar-benar dikuasai.

Menyesal!!! 

Saat memilih jurusan kuliah, kenapa saat itu nggak terfikir sama sekali untuk mengambil jurusan yang bisa menghasilkan keahlian spesifik seperti desain. Terus terang aku ingin sekali bisa mendesain dan menjahit. Tapi untuk sekarang kok ya rasanya sangat terlambat ya.

Itulah yang membuat aku dan Papandut memutuskan krucils akan diarahkan ke pendidikan yang lebih mengedepankan skills disamping pendidikan akademiknya. Alhamdulillahnya aku dan Papandut memiliki pandangan yang sama mengenai hal ini. Karena kami merasa terkungkung dengan dunia kerja kami yang benar-benar mengikat. Dengan satu suara, insyaAllah akan memudahkan kami mengarahkan krucils.

Baca juga : Nak, Janganlah Mudah Memaafkan

Langkah Awal


Kita nggak akan mengetahui minat kita jika tidak dicoba. Itu prinsip aku. Dan ini yang akan aku terapkan ke krucils. 

Kenapa sekarang aku menyesal? karena dulu aku nggak mendalami apa yang aku suka.

Karena itu aku ingin krucils bisa mencoba segala sesuatu diluar pendidikan akademis mereka. Seperti mengikutkan mereka di dalam les. Les disini diluar pendidikan akademis ya. Karena pendidikan akademis insyaAllah sudah didapat di sekolah. Jadi diusahakan les yang mereka ikutkan lebih ke arah hobby dan skills.

Sisi negatif dengan mengikutkan krucils di beberapa les mungkin berdampak pada krucils sendiri. Cape dan bosan. Wajarlah ya.. kegiatan rutin yang dijalani pasti suatu saat akan berada pada titik kejenuhan. Kalau udah begini ya dilematis juga sih.

Disatu sisi, nggak mau terlalu membebani krucils. Di sisi lain, aku nggak mau kelak mereka menyesal seperti bunda dan papanya.

Anel yang aku ikutkan ballet sejak usia 4 tahun, memang terlihat menyukainya. Sampai-sampai dia berpesan mau terus latihan sampai besar nanti. Tapi suatu saat, dia mogok latihan hampir 2 minggu. Kemungkinan besar antara cape atau malas. Dibilang cape mungkin nggak juga karena jam bolos latihannya diisi dengan bermain di rumah, bukan tidur. Dari situ aku berasumsi kalau mogoknya ini karena malas. 
Disini dilema dimulai. Ingin rasanya membiarkan dia terus-terusan bolos untuk me-recharge tenaga dan moodnya. Tapi di sisi lain, rasanya aku sebagai ibu harus juga mengingatkan akan keinginan awal dia untuk menekuni ballet. Bukan... bukan paksaan. Ini lebih ke "memberi arahan dan pandangan". Ketika kita sebagai orang tua mengetahui bakat dan minat anak dalam suatu bidang, maka sudah seharusnya kita terus mendorongnya agar kemampuannya nggak setengah-setengah. 


anak malas les, anak mogok les, menghadapi anak malas les, menghadapi anak mogok les, tips memilih les untuk anak, mengetahui minat anak, pentingnya les bagi anak

Aku pribadi, dalam mengikutkan anak dalam les, memakai metode trial and error. Jika dalam satu bulan pertama atau bahkan kurang, anak menunjukan nggak ada minat atau nggak bisa mengikuti, maka aku anggap dia memang nggak suka. Dan jika itu yang terjadi, maka STOP. Aku akan berhentikan dan cari les tambahan lain. Begitu seterusnya. Dengan catatan jam sekolah dan lesnya nggak bentrok dan masih ada free time nya.

Tips memilih les tambahan untuk anak (diluar pelajaran wajib sekolah) :


1. Trial. Biasanya setiap tempat les memberi kesempatan calon siswanya untuk mengikuti trial sebelum akhirnya diputuskan untuk mendaftar. Ini kesempatan banget untuk orang tua mengetahui anaknya merasa nyaman atau nggak. Nyaman disini bisa dari faktor guru, ruangan/ lingkungan, teman-teman di kelas, dan juga materi les itu sendiri.

2. Tanya Minat Anak. Biasanya anak diikutkan les ketika dia sudah minimal usia 3 tahun kan? Atau ada yang mulai di usia 3 tahun ke bawah? Menurut aku di usia 3 tahun anak sudah bisa ditanya akan minatnya. Ini bisa jadi modal awal bagi orang tua ketika ingin mendaftarkan anaknya les.

3. Atur Jadwal. Aku pribadi sih nggak masalah ya anak diikutkan banyak les. Dengan satu catatan, masih ada free timenya. Kasian juga kan kalau nggak ada waktu senggang untuk sedikit "bernafas". Karena pada dasarnya, anak-anak buth waktu bermain.


Baca juga : 

Berencana Mengajak Anak-Anak Ke Bandung? Jangan Lupa Kesini Ya..

Berpetualang bersama Dinosaurus di Taman Legenda

***

Ini semua pure pandangan dari aku pribadi ya. Jadi menurut aku, ketika anak malas atau mogok les, jangan biarkan begitu saja. Kasihan loh. Karena terkadang mereka butuh pandangan dan dorongan dari kita.

Mama Papa yang lain gimana menghadapi anak yang tiba-tiba malas? Share yuk....

31 comments

  1. kalau aku kecil dulu dipaksa hehehe..
    namanya anak kalo dibiarin.
    malasnya bakal keterusan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang aku pikirin mba. Krn aku dulu gak di paksa. Akhirnya bablas deh.

      Delete
  2. Hai mba WIan. Aku selalu menanyakan dlu anak mau yang mana. Misalnya berenang, teryata dia suka sekali berenang dan hingga kini masih menekuninya tanpa paksaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba..
      Sama mba. Ak juga sblmnya tanya dulu sama anaknya. Klo dia gak mau hanya krn alasan malas, biasanya aku paksa utk coba dulu. Klo memang nggak suka ya gak usah diterusin.

      Delete
  3. Aku blm ada pengalaman mengenai ini mba, tp aku setuju sih anak perlu diarahkan, krna berasanya itu ya diumuran dewasa, baru deh nyesel gk bisa ini gk bisa itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah gunanya orang tua. Jgn pernah cape dan bosan utk ngarahin anak.

      Delete
  4. Aku setuju banget bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hanya kemampuan akademik tapi juga skills bahkan banyak orang sukses namun kemampuan akademiknya biasa saja tp.dia menguasai skills khusus dan konsisten di keahliannya tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya nih mba. Bahkan ada beberap orang sukses yang sekolahnya sedikit berantakan. Nyatanya justru mereka lebih survive dan sukses. Tapi ya gak bisa dipungkiri awal menuju suksesnya pasti jatuh bangun banget.

      Delete
  5. Ini kok mirip saya, saya hampir merasa tidak punya keahlian sama sekali. Melamar kerja tidak punya nilai apa yang mau dijual. Kadang merasa malu, hanya punya tenaga tapi kian melemah. Tidak punya skil sama sekali. kadang saya hanya menyalahkan keluarga ,kenapa saya dulu tidak diberi semangat untuk mengembangkan apa yang saya minat. Ah terlambat sudah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah kenapa aku nggak mau anak2 mengalami hal yang sama kaya aku mas. Menyesal di kemudian hari.

      Delete
  6. Aku jg belajar dr pengalaman dulu mba.. Dulu dipaksa mama papa utk kes piano di rumah, walopun aku sejujurnya ga suka samasekali.. Ujung2nya, aku males latihan.. Trs ikut beberapa les lain yg lagi2 aku benci.. Jadinya nekad beberpa kali malah bolos dan pergi kemana gitu :p.lah akunya memang ga suka, dan jd males kan. Makanya utk anakku aku ga mau paksain.. Kalo dia milih ikut les yg memang dia suka dan mau pelajarin, aku bakal dukung.. Tp kalo memang suatu saat dia rada jenuh sehingga malas utk latihan, baru deh aku nasehatin juga kalo ini kan pilihan dia.. Dia hrs komit dengan apa yg udh dipilih.. Hrs latihan teratur, kecuali memang udh ga mau lagi :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. belajar dari masa kecil orang tuanya.

      Delete
    2. Aku banget tuh sering bolos. Hahaha... dari rumah bilangnya berangkat. Sampe tempat les malah main ke rumah temen. Daaaann itu bikin aku nyesel skrg mbaaaa. Huhuhu...
      Seandainya dulu rajin.

      Delete
  7. aku rencananya juga abis lebaran pengen coba masukin les vokal mba secara anakku dah kek bang ipul dikit2 dinyanyiin wkwkwk *pdhl emaknya juga gitu* :D aku juga mikirnya bisa ga yah trial dlu soalnya aku takut rugi bisa nangis guling2an aku klo ternyata uda masuk lesnya eh anaknya udahan *pingsan aku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkw bang ipul. Bisa aja si mba. Tapi bakat tuuuhhh. Mungkin bakat terpendam. Biasanya sih tempat les sering nawarin trial di awal mba.

      Iyalah mba aku juga bakal nangis guling2 klo udh bayar, eehhh anaknya mogok.

      Delete
  8. Wahhhh ini saya banget. Salah jurusan, tapi akhirnya malah punya ilmu tambahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh mas satoo mah udah caem banget ilmu tambahannya.

      Delete
  9. Setuju, saya dan suami jg lbh milih ngeluarin uang buat les keahlian2 drpd les akademis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena insyaAllah akademis terpenuhi dari sekolah

      Delete
  10. makasih tipsnya mba, pas banget nih, lagi galau soal les anak2..

    ReplyDelete
  11. aku juga sama mba, nyesel kenapa dulu gak mendalami hobi kali aja kan jadi berbakat, punya keahlian. keahlian itu sendiri kan bisa jadi ciri khas seseorang juga, malah jadi lebih dikenal

    btw, saya suka sama cara mba mendidik anak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ami. Punya keahlian di satu bidang bisa jadi trademark diri. Seneng kan ya klo dikenal dengan keahlian yang mungkin gak bnyk orang punya.

      Delete
  12. paragraf2 awal itu menyatakan perasaaanku jugaa teh. huhu sering mikir andai punya pekerjaan lain yang tidak terikat jam kerja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss ah. Tapi skrg klo udah kadung gini yaa dinikmati dan disyukuri aja deh.

      Delete
  13. Dulu ada murid yang mogok les (di lembaga) eh ternyata karena diledekin temennya. Harus ditanya juga alasannya dan diingatkan lagi cita2 dia dari les bakat itu. Namanya bocah ya, orang dewasa pun terkadang kebawa mood malas, haha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anel juga kmrn aku tanya gitu mba pas mogok ballet. Dia bilang gak ada mslh sm tmnnya. Pure krn dia capek.

      Delete
  14. anak malas kudu dipaksa, pengalaman pribadi mak, dulu waktu SMP tulisanku dimuat di majalah anak2, ibuku getol nyuruh ikutan komunitas penulis tapi akunya males karena anggotanya udah dewasa semua, ibuku masih getol nyuruh ikutan komunitas tsb sampai umur aku 25an dan dasar aku stubborn ... keukeuh mareukeuh menolak karena aku bisa nulis bukan karena komunitas ... padahal ikutan komunitas banyak manfaatnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kadang jadi ngaca juga sih mba. Kita paksa sedemikian rupa tapi anaknya tetep kekeuh persis kita dulu. Hehehe..

      Delete
  15. Aku biasanya tanya anak2ku mau ikutan kegiatan apa? Nah sbg orangtua paling kita memberi saran aja sebaikny gimana...tapi terkadang ada hal2 yg mesti dipaksakan karena kalau ga, anak jd ogah2an kan ga bagus hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya sama mba. Aku sebenernya sih monggo aja anak2 punya pilihan apa. Tp tetep aku arahkan.

      Delete

Terima kasih sudah membaca blog ini. Semoga nggak bosen untuk terus mampir kesini..
Silahkan tinggalkan comment. Dan mari saling Blogwalking :)
Oya, komen akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi nggak langsung muncul. Please jangan tinggalin jejak link hidup. Jika meninggalkan jejak link hidup, dengan sangat berat hati akan aku delete.

Terima Kasih