Nak, Janganlah Mudah Memaafkan

Sabtu, Maret 04, 2017

bullying, kekerasan, jangan mudah memaafkan, kekerasan anak, cara terhindar dari bullying, cara terhindar dari kekerasan

Pendidikan anak bukan saja mengenai pendidikan akademik semata. Pendidikan mengenai bagaimana cara bersikap di tengah lingkungan sosial sudah menjadi hal yang harus diajarkan sejak dini. Seperti bagaimana harus mengatakan "minta tolong" saat membutuhkan bantuan orang lain, bagaimana harus mengatakan "terima kasih", bagaimana mengatakan "maaf" saat melakukan kesalahan, dan bagaimana hidup saling menghargai, saling menghormati dan saling memaafkan.

Tapi di era sekarang ini, apakah saling memaafkan masih perlu diajarkan kepada anak-anak kita? Mengajarkan untuk tidak mudah "mendendam" mungkin aku setuju. Tapi untuk mudah memaafkan, sepertinya aku kurang setuju. Apalagi untuk beberapa hal yang seharusnya tidak patut dimaafkan.

Entah benar atau nggak apa yang akan aku ajarkan kepada anak-anak kali ini. Mungkin banyak yang nggak akan setuju.

Ini semua karena rasa gemes dan emosi melihat banyaknya kejadian bullying atau kekerasan di tingkat sekolah saat ini. Setiap ada berita bullying yang menimbulkan korban, suara hati selalu meneriakkan "iiihhhhh manusia kok tega", "iiihhh kenapa diem aja sih".

Kalau masih ingat beberapa kasus seperti : 
  1. Anak SD mengalami cidera tulang ekor akibat terjatuh dari kursi karena kursi di tarik saat ia hendak duduk, atau 
  2. Kasus yang baru-baru ini, korban meninggal setelah "disiksa" saat mengikuti mapala.
Dan beberapa kasus lain yang jumlahnya nggak bisa dibilang sedikit.

Kadang terbersit dalam hati, kenapa ya para korban itu nggak membela diri atau kenapa ya para korban nggak mengadukannya kepada pihak lain seperti guru atau orang tua. Gemes kaaannn...

Haruskah mereka diam saja saat diperlakukan seperti itu?
Haruskah mereka memaafkan begitu saja saat diperlakukan seperti itu?
Aku rasa NO!!!!! 

bullying, kekerasan, jangan mudah memaafkan, kekerasan anak, cara terhindar dari bullying, cara terhindar dari kekerasan


Itulah kenapa akhirnya aku mengajarkan kepada anak-anak, janganlah mudah memaafkan jika kamu diperlakukan tidak adil atau disakiti baik fisik maupun mental.

Saat Dasha duduk di bangku KB B (Kelompok Bermain B), tiba-tiba aku di telephon dari pihak sekolah yang mengabarkan jika wajah dekat matanya luka karena dicakar temannya. Begitu dikirimkan foto dari pihak sekolah, betapa terkejutnya aku karena lukanya lumayan dalam. Untungnya nggak sampai terkena mata. Mungkin beberapa pihak berkomentar "ya namanya juga anak-anak. Belum tahu bagaimana bersikap seharusnya". Tapi menurut aku, hal-hal kecil seperti ini sudah seharusnya dibicarakan lebih lanjut dengan ibu guru dan orang tua kedua belah pihak. 

bullying, kekerasan, jangan mudah memaafkan, kekerasan anak, cara terhindar dari bullying, cara terhindar dari kekerasan

Dalam hal ini, kita nggak bisa hanya memposisikan diri sebagai pihak yang menjadi korban. Karena bisa saja kita berada di pihak pelaku *amitamit*.

Menyikapi beberapa hal "gila" belakangan ini, aku mengajarkan anak-anak untuk selalu melakukan hal-hal ini :

1. Kalau kamu disakiti secara fisik dan kamu berani melawan, lawan!!!! Jangan diem aja. Tapi kalau kamu nggak berani melawan, kamu teriak kencang dan lari ke guru yang kamu percaya. Adukan apa saja yang baru kamu alami.

2. Kalau kamu melihat teman kamu di sakiti secara fisik, kamu langsung infokan kepada guru yang kamu percaya.

3. Selain mengadu kepada guru, papa dan bunda adalah tempat kamu mengadu tentang semua hal yang kamu alami selama papa dan bunda di kantor. Untuk poin ini, terkadang masih harus aku pancing dulu. Jadi begitu pulang kantor, aku ajak ngobrol dulu ngalur ngidul. Nanti mereka dengan sendirinya aku balik bercerita.

4. Orang asing adalah orang jahat. Mungkin terlalu frontal ya untuk poin ini. Tapi melihat hal-hal yang semakin nggilani ini, sepertinya poin ini perlu ditekankan. Orang asing disini aku garisbawahi untuk orang asing yang tiba-tiba ngajak pergi dan orang asing yang tiba-tiba ngasih makanan atau minuman.

5. Jangan pernah menyakiti jika tidak ingin disakiti. Untuk anak-anak aku yang umurnya masih 7 tahun dan 4,5 tahun, konsep ini aku ajarkan dalam hal bermain bersama teman atau saudara, misalnya tidak merebut mainan jika sedang dimainkan oleh orang lain. Tidak memulai nyubit, mukul, nendang atau aktifitas fisik lainnya ketika berselisih.

Intinya sih aku mengajarkan mereka untuk tidak takut, berani membela dan mempertahankan diri ketika disakiti secara fisik maupun mental dan tidak memulai kontak fisik negatif ketika berinteraksi dengan orang lain.

Bukan hal mudah memang. Selain segala hal yang aku sebutkan di atas, pendidikan agama adalah pondasi paling kuat untuk membentuk pribadi yang jauh dari kekerasan.

Semoga ya nggak ada lagi orang-orang diluar sana yang hobbynya membully atau melakukan kejahatan. Dan semoga anak-anak kita dijauhkan dari segala bentuk kejahatan. Aamiin...

Moms atau dads, sharing dong apa yang kalian ajarkan kepada anak-anak untuk menghadapi banyaknya kasus bullying dan kekerasan sekarang ini?...

You Might Also Like

37 comments

  1. Setuju mbak, terutama poin no 1,harus berani melawan. Jadi orang lemah nggak asik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes. Orang Lemah itu biasanya yang Jadi Saharan bullying...

      Hapus
  2. Bunda setuju banget untuk mengajarkan kepada anak-anak kita sedini mungkin untuk tidak boleh menyimpan rasa dendam. Begitu yang selalu bunda ajarkan kepadaa anak-anak bunda. Selalu mengingat kebaikan seseorang yang kita peroleh, sekecil apapun. Dengan begitu akan mengikir rasa dendam yang akan mulai mengakar dalam hati. Mengingat kebaikan dalah seperti air penyiram hati yang panas. Nice posting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bunda. Tapi kalau udah melakukan kekerasan fisik, sebesar apapun kebaikan yang pernah diperbuat pelaku gak akan bisa menghapus begitu saja efek dari kekerasan itu.

      Hapus
  3. memang di jaman milenial sekarang ini harus ektra hati-hati dan harus waspada demi melindungi anak. kalo seperti cerita di atas, sudah kadung celaka atau bahkan meninggal, hanya ada penyesalan yang ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba. Selain melindungi anak supaya nggak menjadi korban, harus melindungi juga supaya nggak jadi pelaku.

      Hapus
  4. mada anakku cowok umur 2.5, di lingkungan tempat tinggalku anak2 cewek yg seumuran agresif... klo main pasti nendang/mukul/dorong... karena aku ngajarin mada tidak melakukan hal serupa terhadap anak perempuan, ya aku yg turun tangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naahh yang kaya gini ni dilema. Nggak boleh nyakitin perempuan, tapi klo perempuannya yang justru melakukan kekerasan duluan, apa iya harus diem

      Hapus
  5. Aku suka poin 1. Tapi memang benar terkadang org bilang, biasa anak"... Haduhh geregetan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak memang blm paham benar salah. Tapi ketika kesalahan hanya dimaklumi tanpa edukasi, takutnya bablas sampe gede. Menurutk aku....

      Hapus
  6. nyimak..he2, belajar mempertahankan diri itu perlu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah aku pengen sekalian les in bela diri loh mba. Hehehe

      Hapus
  7. Memaafkan boleh tapi tetap harus dihukum kalau pelaku melakukan tindak kekerasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah setuju ini mba. Tapi ambigunya dari memaafkan itu adalah, ketika anak memaafkan maka ia nggak akan cerita atau mengungkit apa yang dialaminya kepada ortu. Itu yang aku takutin mba. Makanya PR banget deh ngasih insight ke anak2 utk hal ini.

      Hapus
  8. Berani melawan dan jangan diam aja ya

    BalasHapus
  9. Iya mba, potensi bullying ini bisa terjadi di lingkungan sekolah, rumah atau di areal publik. Apalagi anak-anak zaman sekarang lebih mudah meniru kekerasan dari film atau googling & youtube. Sebagai orangtua, tentu saya juga mewanti-wanti anak dengan cara serupa. Kadangkala anak-anak (pelaku bully) mungkin tidak menyadari bila tindakannya salah. Untuk anak usia SMP/SMA & Mahasiswa perlu treatment yang berbeda, saya sepaham bahwa Agama menjadi pondasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dikencengin di edukasi agamanya ya mba..

      Hapus
  10. Hai mba. Soal memafkan, aku sellau ajarkan anakku untuk selalu melawan mba. Tapi kadang anakku tuh sungkan. Pengennya nggak jadi masalah. CUma aku bilang kalau disampaikan baik2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini nih mba yang aku takutin..

      Hapus
  11. ya ampun mba, aku jadi miris baca ceritanya
    penting banget ya didikan soal ini sama anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya untuk mempertahankan dirinya sendiri

      Hapus
  12. Sebagai umat manusia, sifat memaafkan baik, tapi kalo sudah menyangkut kejahatan ya proses harus di lanjutkan. (pendapatku bun)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mpo. Tapi terkadang agak bias ya antara memaafkan dengan melupakan. Dimana melupakan bisa saja berarti "ya sudah lah" dan nggak ada proses lanjutannya.

      Hapus
  13. cukup sulit memang mengajarkan anak bagaimana mempertahankan diri dan menetukan sikap paling pas untuk suatu keadaan tertentu
    kadang2 ada alternatif kalau kejadian A harus disikapi begini
    kalau kejadian B sikapnya harus begitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaahh yang kondisional ini yang susah ngajarinnya.

      Hapus
  14. Sepupuku pernah jaman SMA dibecandain ditarik kursinya gtu :(
    Emang anak2 kudu diajarin membela diri ya mbak TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuhhhh.... ngeri kan ya mbaaa..

      Hapus
  15. Jadi ingat dulu pernah punya murid Grade 1, mogok sekolah karena ledekan satu teman. Saya dan Maminya sepakat untuk ngajarin. Kalau dilewein, balas lewein. Kalau dipukul, balas pukul. Asal jangan mulai duluan ya. Didikan yg salah? Mungkin! Tapi inilah kondisinya. Untuk menghindari bully, anak mesti dididik garang juga, baik perempuan maupun lelaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup setuju banget! bukan ajaran yang salah ah kalau menurut aku. Yang salah adalah mengajarkan anak-anak diam saja saat di bully.

      Hapus
  16. Iya mba seharusnya memang begitu... anak2ku mah keliatannya ga ada yg berani melawan, tapi alhamdulillah semua anak banyak temannya. Pernah sih ada kasus waktu si bungsu pindah sekolah, ternyata di situ ada penguasanya hehe.. setiap anak yang mencoba bermain dan mendekati anakku langusng ditandain.dan di warning..akhirnya anakku ga punya teman. Untungnya anakku sangat terbuka sama uminya, suka cerita jadinya saya banyak berkomunikasi dengan guru kelasnya..alhamdulillah akhirnya kasus selesai, sekarang ia enjoy bersekolah di sekolah barunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuncinya memnag di komunikasi ya MBa. Jadi kitanya juga bisa langsung komunikasi ke guru.

      Hapus
  17. Setuju nih mbak, anak2 sedini mgkn.hrs dididik.cara membela.dirinya. jgn biarkan dia jd korban dr org2 sekitarnya, krn itu membahayakan masa depannya juga lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneeer banget mba. Gemes aku liat berita tentang bullying yang memakan korban.

      Hapus
  18. wow... aku banget tuh. Toss ah, Mba Wian. Aku selalu mengajarkan anak2 jika mereka duluan yang mulai, "lawan". Kalau perlu adu fisik. Kalau nggak berani, aduin ke guru, gurunya diemin, bilang ke ummi abi kita cari orangnya. Tapi dengan syarat dia duluan yang mulai. Kalau kamu duluan yang mulai, nggak akan kami belian, malah mgkn kamu yang kami beri sangsi.

    Untuk poin 4 aku nggak bilang "orang jahat", melainkan berhati-hati dan jangan mudah percaya. Dan aku kasih password ke anak2, jika ada orang asing yang ngaku2 mau jemput anak2. Paswordnya cuma saya, suami, anak saya dan Allah yang tahu. ^_^

    Nice sharing ^_^

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog ini. Semoga nggak bosen untuk terus mampir kesini..
Silahkan tinggalkan comment. Dan mari saling Blogwalking :)
Oya, komen akan dimoderasi terlebih dahulu ya.. Jadi nggak langsung muncul. Please jangan tinggalin jejak link hidup ya. Jika meninggalkan jejak link hidup, dengan sangat berat hati akan aku delete ya.

Terima Kasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tweet

Instagram

Pengikut

Back to Top