Hal-hal Yang Harus Diperhatikan dalam Memilih Kontraktor Rumah

Tuesday, October 13, 2015

tips memilih kontraktor rumah, kontraktor rumah, memilih kontraktor rumah yang baik, tips membangun rumah


Ada pepatah bilang "Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga"

Yes, that's totally true!!

Seperti postingan aku disini, sekarang ini kita lagi proses pembangunan rumah impian (Yeaaayyy Alhamdulillah...). Dan kita memutuskan untuk pake jasa kontraktor borongan. Ini adalah pengalaman pertama aku dan suami dalam urusan kontraktor rumah.

Kebetulan tetangga rumah juga lagi proses bangun rumah. Dimana kontraktornya adalah adik si pemilik rumah yang sedang di bangun itu. Dan kebetulan, si pemilik rumah yang di bangun, adalah tetangga Ibu Bapak dan anaknya juga teman kecil aku. Jadilah kita putusin pake jasa kontraktor itu. Di awal diskusi kita dengan kontraktor, kita udah jelasin kalo concern kita lebih ke budget (secara budgetnya gak berlimpah). Dengan mengajukan denah rumah yang kita mau, kita tanya-tanya mengenai kira-kira budgetnya masuk gak ke budget kita. Ternyata menurut kontraktornya, budget kita cukup untuk buat rumah sesuai yang kita mau di denah.Ok.. akhirnya kita sepakati untuk ambil jasa borongan dimana perhitungannya sudah all in (jasa dan material).

Proses peletakan batu pertama sampai bangunannya berdiri tegak, semua berjalan lancar. Cuma mundur aja schedule penyelesaiannya. Yang semula harusnya sebelum lebaran udah selesai, sampai setelah lebaran ternyata masih jauh progressnya. Ok, kita maklumi karena emang kepotong bulan puasa dan lebaran. Jadilah si kontraktor komitmen untuk selesai setelah lebaran 2015 (sekitar bulan Juli). Kenyataannya??? sampai sekarang (Oktober 2015) belum juga selesai. Whaaaatttt!!!!!!! *emosi*

Emang bener kata orang, kalau proses finishing itu yang justru lebih lama dan rasanya gak selesai-selesai.

Jadi ni ya, rumah kita udah beres lah ya bentuknya. Finishingnya ini yang lama banget dan mulai keliatan gak rapih kerjaan tukangnya. Dari mulai tembok yang setelah kita cek ternyata banyak yang gempur, keramik yang kopong, pemasangan kusen yang gak rapih dan gak hati2 sampe pada bocel kayunya, sanitary yang gak di pasang-pasang, listrik yang juga gak di pasang-pasang, dan masih ada beberapa lagi yang gak beres *inhale... exhale..*

Salahnya kita adalah, kita gak pernah bisa mantau all day long karena kan harus ngantor. Jadi palingan baru bisa full ngawasin ya pas weekend. Dan ternyataaaaaaa kontraktornya pun hampir gak pernah dateng untuk ngawasin kerjaan tukangnya. Dan ternyata lagi, semakin hari, jumlah tukang yang kerja semakin sedikit karena di tarik untuk proyek dia yang lain. Udah tukangnya semakin sedikit, kerjaannya pun gak rapih, ya makin molor laaahhh selesainya.

Komplain gak? beeeuuuuhhhhhhhh udah sampe berbusa mulut kita komplain ke kontraktornya. Jawabannya cuma janji-janji kosong. Sampe akhirnya kita minta bantuan kakaknya si kontraktor (yang notabene adalah tetangga Ibu Bapak) dan minta bantuan Bapak untuk ngomong ke kontraktornya. Better lah ya setelah Bapak yang ngomong (kontraktornya agak segen sama Bapak). Kita ultimatum untuk bisa selesai maksimal akhir bulan ini (Oktober 2015). No Excuse!!!!

Belajar dari pengalam pahit saat itu, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih kontraktor rumah :

tips memilih kontraktor rumah, kontraktor rumah, memilih kontraktor rumah yang baik, tips membangun rumah
Tips memilih kontraktor rumah

1. Pilih kontraktor yang ngggak terlalu banyak proyek. Jadi dia bisa fokus di rumah kita dan dia bisa ngatur budget dengan baik (karena kita liat, kontraktor ini mainin budget antara proyek yang satu dengan proyek yang lainnya).

2. Lebih baik jangan ambil borongan (jasa dan material). Mendingan material kita beli sendiri. Karena di kasus kita, ada beberapa harga material di RBB yang di markup (misal harusnya dapet merk A, ternyata yang dibeli merk B yang lebih murah. Kalau yang ini kita bener-bener gak mau terima. Harus di balikin lagi sesuai RBB. Bodo amat kalau emang harus bongkar). Dan ada beberapa item yang ada RBB tapi gak di pake (di kasus kita, pembelian dan pemakaian sirtu). Untungnya gak semua material dibeli sama kontraktornya, ada beberapa material yang emang kita beli sendiri (kaya kusen, daun jendela, daun pintu, keramik).

3. Perjanjian awal harus lebih mantap. Kalau bisa tambah klausa komitmen penyelesaiannya dan sanksi kalau komitmen gak terpenuhi.

4. Pastikan tukang yang kita dapet adalah tukang yang bener-bener ahli (pengalaman kita, tukang yang ahli dan kerjaannya rapih gak selalu stay untuk rumah kita. Kadang di ambil untuk proyek yang lain).

Kita sih pengennya rumah segera selesai dan semuanya rapih. Sayang aja kan kalau materialnya pake kelas yang lumayan bagus, tapi hasil pemasangannya gak bener dan gak rapih. Sediihhh banget rasanya. Belinya pake uang loohhh itu material. Ngenes rasanya liat kusen, daun pintu, dan daun jendela pada rusak cuma karena proses pemasangannya. Padahal kita udah sengaja pilih kayu merbau dan buat langsung di Solo. Kalau akhirnya bocel-bocel gini kan, mendingan pake kayu biasa aja!!! *mewek*

Kira-kira ada gak yang punya pengalaman kaya kita gini?

You Might Also Like

13 comments

  1. Kebetulan saya juga ada cv konsktruksi. Paling krusial emang di pengawasan agar terjaga waktu pengerjaan dan kualitas bangunannya.:)

    ReplyDelete
  2. Kalau membangun sebaiknya emang dikontrol langsung. Sy jg barusan bangun rumah, emang makan ati banget kontraktor yg nakal gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya mas. Masalahnya gak bisa selalu ngawasin. Huhuhu

      Delete
  3. makasih tipsnya berguna kalau mau rebovasi rumah

    ReplyDelete
  4. Bener mbak... Ibuku dulu juga geto.. Nyari tukang yang bagus tu susah... Yang ada malah kita yang dipermainkan tukang. Pake jasa kontraktor yang bener2 profesional aja kadang masih ada yang gak bener.. Kitanya yang kudu cerewet..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keseeell ya mba rasanya. Padahal udh cerewet banget sampe berbuasa. Tetep ajaaaa...

      Delete
  5. wah pengalaman kita sama mba....tapi saya cuma waktu masang keramik...karena rumah KPR..jadi direhab bertahap...waktu masang keramik pemborongnya lain..padahal udah kenal tapi ya gitu deh.karena tidak diawasi jadinya asal asalan..suatu hari sekitar 1 tahun setelah siap dikeramik..itu keramik copot sendiri...diawali dengan menggelembung dan pecah..awalnya kaget saya pikir ada ular di bawa tanah..ternyata kata orang sebelah yang ngerti tukang..itu karena waktu pasang keramik tanahnya tidak dipadatkan..jadi ada celah udara gitu dan memuai.Kami terpaksa ganti keramik di dapur dan kamar saya.baru baru ini ruang tamu juga ada di bawah kursi dan belum diganti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah jadi boros ya mba jatohnya. Haduuuhh semoga keramik aku nggak ngalamin kaya gitu ya. Pusing juga mikirin biayanya.

      Delete
  6. Wah berguna sekali tipsnya buat bikin rumah pas udah nikah nanti hehehe, thankyou mbak...

    ReplyDelete
  7. Klo ngambil borongan harus sama orang yg udah kenal banget yaa mbaaa..
    Tfs yaa mba wian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama orang yang udah kenal pun masih ada potensi risikonya juga sih mba. Kuncinya cuma di pengawasan dari kita.

      Delete

Terima kasih sudah membaca blog ini. Semoga nggak bosen untuk terus mampir kesini..
Silahkan tinggalkan comment. Dan mari saling Blogwalking :)
Oya, komen akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi nggak langsung muncul. Please jangan tinggalin jejak link hidup. Jika meninggalkan jejak link hidup, dengan sangat berat hati akan aku delete.

Terima Kasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tweet

iBlogmarket

IBX59815A3F85DAF

Instagram

Followers

Back to Top